Apa Itu Hipertensi? Kenali Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gagal jantung dan stroke.
World Health Organizations (WHO) menyebutkan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi dimana tekanan dalam pembuluh darah 140/90 mmHg atau lebih. Penyakit ini merupakan kondisi umum yang dapat meningkatkan resiko penyakit komplikasi serius apabila tidak serius ditangani
Untuk lebih memahami tentang penyakit hipertensi beserta gejala, penyebab dan pengobatannya secara lengkap lewat artikel ini.
Baca juga: Pentingnya Cek Tekanan Darah Rutin, Cegah Hipertensi!
Apa itu Hipertensi?
Dilansir dari situs resmi Badan Kesehatan Dunia, WHO, tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh sirkulasi darah terhadap dinding arteri tubuh, pembuluh darah utama dalam tubuh. Hipertensi terjadi ketika tingkat tekanan darah lebih tinggi dari yang seharusnya.
Tekanan darah ditulis dengan 2 angka yang mewakili. Pertama adalah angka sistolik yang mewakili tekanan dalam pembuluh darah saat jantung berkontraksi atau berdenyut. Kedua adalah diastolik yang mewakili tekanan dalam pembuluh darah saat jantung beristirahat di antara detak.
Orang dewasa dengan kondisi tubuh sehat biasanya memiliki tekanan darah antara 90/60 mmHg sampai 120/80 mmHg. Jika dalam pemeriksaan tekanan darah Anda memiliki angka yang lebih tinggi dari itu, ada kemungkinan Anda mengalami hipertensi.
Jenis-jenis Hipertensi
Klasifikasi tekanan darah tinggi secara umum dibagi menjadi 2 yakni hipertensi primer dan hipertensi sekunder.
- Tekanan darah tinggi primer atau esensial adalah jenis tekanan darah tinggi yang paling umum. Banyak orang yang mengalami hipertensi primer seiring dengan pertambahan usia
- Tekanan darah tinggi sekunder yakni tekanan darah tinggi yang diakibatkan oleh kondisi medis lain atau penggunaan obat-obatan tertentu. Kondisi hipertensi sekunder biasanya akan membaik setelah penderitanya sembuh atau berhenti meminum obat yang menyebabkan naiknya tekanan darah.
Penyebab Hipertensi
Penyebab penyakit ini berbeda-beda, tergantung pada jenisnya. Berdasarkan jenisnya, simak penyebab tekanan darah tinggi berikut ini!
Hipertensi Primer
Bagi kebanyakan orang dewasa, hipertensi primer tidak bisa diidentifikasi penyebabnya. Kondisi ini cenderung berkembang secara bertahap seiring dengan berjalannya waktu.
Hipertensi Sekunder
Jenis hipertensi sekunder memiliki kondisi lain yang mendasari. Tekanan darah tinggi sekunder cenderung muncul tiba-tiba dengan tingkat kenaikan yang lebih tinggi dibanding hipertensi primer. Berbagai kondisi dan obat-obatan bisa menyebabkan hipertensi sekunder termasuk:
- Apnea/gangguan tidur tidur obstruktif
- Penyakit ginjal
- Tumor kelenjar adrenal
- Masalah tiroid
- Cacat bawaan pada pembuluh darah yang sudah dimiliki sejak lahir
- Penggunaan obat-obatan tertentu seperti pil KB, obat flu, dekongestan (obat pengencer dahak), pereda nyeri yang dijual bebas hingga beberapa jenis obat dengan resep dokter
- Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan amfetamin.
Apa Saja Gejala dari Hipertensi?
Melansir dari Mayo Clinic, sebagian besar penderita tekanan darah tinggi tidak menunjukkan gejala. Kamu bisa saja ternyata menderita tekanan darah tinggi selama bertahun-tahun tanpa gejala apapun.
Itulah kenapa tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer, bisa saja tidak menunjukkan gejala namun menimbulkan bahaya yang bahkan mematikan. Namun, ada juga beberapa orang yang bisa menunjukkan beberapa gejala.
Berikut ini merupakan beberapa gejala hipertensi yang umum dirasakan.
- Sakit kepala
- Pusing
- Pandangan kabur
- Telinga berdenging
- Sesak napas
- Mimisan
- Mual muntah
- Dada berdebar
- Kelelahan
Diagnosis terhadap Hipertensi
Hipertensi didiagnosis ketika tekanan darah pasien terukur >130 mmHg untuk sistolik dan >80 mmHg untuk tekanan diastolik. Tekanan darah diukur dengan menggunakan manset pengukur tekanan darah yang merupakan perangkat non-invasif yang dapat mendeteksi tekanan darah dalam arteri dan memberikan nilai numerik menggunakan sphygmomanometer atau perangkat elektronik.
Tekanan darah Anda biasanya akan diukur pada kedua lengan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan pengukuran. Dokter juga harus memastikan ukuran manset lengan yang dipakai sudah sesuai dengan Anda.
Dokter mungkin juga akan menggunakan tes laboratorium atau pencitraan untuk mendiagnosis tekanan darah tinggi. Ini biasanya dilakukan untuk kasus hipertensi sekunder. Dari tes ini dokter bisa mendiagnosis beberapa penyebab atau komplikasi yang dialami oleh pasien.
Tatalaksana Terapi Penyakit Hipertensi
Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa penanganan pengobatan hipertensi dengan farmakologi terutama menggunakan obat golongan diuretik, ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker (ARB), antagonis kalsium dan beta blocker (BB).
Penanganan tekanan darah tinggi di awal dengan terapi farmakologi adalah dengan menggunakan obat tunggal atau monoterapi. Cara ini bisa menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 7-13 mmHg dan diastolik 4-8 mmHg. Sebelumnya, JNC VII merekomendasikan penggunaan thiazide dosis rendah. Namun saat ini untuk pasien non kulit hitam disarankan menggunakan ACE inhibitor, ARB, thiazide dosis rendah atau CCB.
Sementara itu guideline di Eropa merekomendasikan penggunaan 5 jenis obat untuk terapi awal pada pasien hipertensi yakni AC inhibitor, thiazide dosis rendah, ARB, CCB atau beta blocker berdasarkan kondisi khusus.
Dari sisi non farmakologi, pasien juga dapat melakukan sejumlah cara untuk membantu menurunkan tekanan darah antara lain dengan:
- Berolahraga secara rutin
- Mengurangi asupan sodium dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari
- Mengurangi konsumsi alkohol
- Mengonsumsi makanan yang tinggi kalium seperti sayur-sayuran hijau, buah-buahan termasuk pisang dan avokad serta tuna, salmon dan kacang-kacangan.
Pencegahan Penyakit Hipertensi
Secara umum, pencegahan tekanan darah tinggi bisa dilakukan dengan mengubah gaya hidup. Menerapkan pola hidup sehat tidak hanya bisa membantu pasien dengan tekanan darah tinggi untuk mengelola tekanan darahnya dalam level normal, tapi juga membantu menurunkan risiko dan mencegah hipertensi. Beberapa contoh penerapan gaya hidup sehat antara lain:
Mengonsumsi Makanan yang Bergizi
Pilihlah makanan pokok maupun camilan yang bisa membantu mencegah tekanan darah tinggi dan komplikasinya. Konsumsi sayur, buah, makanan kaya kalium, serat dan protein serta rendah garam dan rendah lemak jenuh. Perubahan pola makan menjaga tekanan darah tetap rendah dan melindungi dari penyakit jantung dan stroke.
Menjaga Berat Badan pada Level Sehat
Kelebihan berat badan atau obesitas bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Untuk menghitung apakah berat badan Anda termasuk normal atau tidak, dokter akan menghitung indeks massa tubuh Anda. Dokter juga bisa menggunakan ukuran pinggang dan pinggul untuk mengetahui lemak tubuh Anda.
Hindari Merokok
Merokok tidak hanya berisiko meningkatkan tekanan darah tapi juga risiko serangan jantung dan stroke. Jika Anda tidak merokok, hindari mulai merokok. Jika Anda merokok, berhenti bisa menurunkan risiko penyakit jantung.
Batasi Konsumsi Alkohol
Hindari konsumsi minuman beralkohol terlalu banyak karena bisa meningkatkan tekanan darah. Pria sebaiknya tidak minum lebih dari 2 porsi minuman beralkohol per hari dan wanita tidak boleh minum 1 porsi minuman beralkohol per hari.
Istirahat yang Cukup
Tidur sangat penting untuk mendukung kesehatan secara umum, termasuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Tidak cukup tidur dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.
Itulah beberapa hal yang perlu diketahui tentang hipertensi, penyebab, gejala, diagnosis dan cara pencegahannya. Konsultasikan pada dokter untuk pengobatan terbaik.
Kehabisan obat tekanan darah tinggi dan butuh cepat? Dapat diandalkan kapanpun dan dimanapun, semua jadi beres bersama aplikasi K24Klik.
Yuk unduh aplikasi K24Klik di Play Store maupun App Store, rasakan manfaat beli obat cepat 24 menit sampai sekarang juga!
Referensi:
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension diakses pada 29 Januari 2026
https://www.who.int/health-topics/hypertension diakses pada 29 Januari 2026
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/symptoms-causes/syc-20373410%C2%A0%C2%A0 diakses pada 29 Januari 2026