fbpx

Bayi Kuning: Apakah Normal Bagi si Kecil?

Published by Maretta Putri on

Dikurasi Oleh : apt. Maretta Putri Ardenari, S.Farm.

Para Ibu pasti sering mendengar istilah Bayi Kuning bukan?
Kekhawatiran orang tua yang baru melahirkan salah satunya adalah bayi mereka kuning. Apakah memang benar bahwa bayi kuning itu pasti dialami oleh semua bayi yang baru lahir dan apakah hal tersebut berbahaya?
Yuk simak ulasan lengkapnya ya…

Apa Sih “Bayi Kuning” Itu?

Bayi baru lahir sering mengalami ikterik atau jaundice, dimana kulit dan bagian putih mata berubah warna menjadi kuning. Bayi kuning merupakan kondisi umum yang terjadi pada bayi usia 2-3 hari dan hilang pada saat bayi berusia 2 minggu. Hal ini terjadi karena liver atau organ hati pada bayi tidak selalu bekerja secara optimal, sehingga tidak bisa memecah zat dalam darah yang disebut dengan bilirubin. Kuning terjadi karena bilirubin dalam darah meningkat, sering disebut dengan “Hiperbilirubinemia“. Hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kadar bilirubin dalam darah >5mg/dL.

Ciri-ciri Bayi Kuning

Ciri Bayi Kuning

Sebagian besar kasus hiperbilirubinemia tidak berbahaya, tetapi kadang kadang kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak (kern icterus). Gejala klinis yang tampak yaitu bayi sering mengantuk, bayi tidak kuat menghisap ASI atau susu formula, muntah, opistotonus (sikap pada tubuh abnormal ketika posisi tubuh mengalami kaku dan melengkung ke belakang, kemudian dengan kepala terlempar ke belakang), mata terputar-putar keatas, kejang, dan yang paling parah bisa menyebabkan kematian. Efek jangka panjangnya adalah retardasi mental (gangguan perkembangan otak), kelumpuhan serebral, tuli, dan mata tidak dapat digerakkan ke atas.

Berikut merupakan gejala–gejala ketika bayi mengalami penyakit kuning:

  1. Bagian putih mata berubah menjadi berwarna kuning
  2. Kulit bayi di dahi atau hidung, ketika ditekan dilembut warnanya menjadi kuning

Cara Pengecekkan Bayi Kuning

Panduan WHO mengemukakan cara menentukan bayi kuning secara visual, sebagai berikut:

  • Pemeriksaan dilakukan pada pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada pencahayaan yang kurang
  • Kulit bayi ditekan dengan jari secara lembut untuk mengetahui warna di bawah kulit dan jaringan subkutan
  • Keparahan penyakit ini ditentukan berdasarkan usia bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning.

Kenapa Bisa Terjadi?

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan hiperbillirubin antara lain:

  1. Maternal, seperti komplikasi kehamilan karena adanya perbedaan golongan darah (ABO) antara Ibu dan anak, perbedaan rhesus dan pemberian air susu ibu (ASI)
  2. Perinatal, seperti adanya infeksi dan trauma lahir (cephalhermaton)
  3. Faktor neonatus, seperti prematuritas (kelahiran yang terjadi sebelum minggu ke-37 kehamilan), rendahnya asupan ASI, hipoglikemia (kadar gula di dalam darah berada di bawah kadar normal) dan faktor genetik
  4. Faktor lainnya, seperti bayi kurang bulan atau kehamilan usia <37 minggu, bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan jenis persalinan.

Bagaimana Mengatasinya?

Atasi bayi kuning

Sebagian besar jenis penyakit kuning akan hilang dengan sendirinya. Namun bagi sebagian yang lain akan membutuhkan pengobatan untuk menurunkan kadar bilirubin. Jika usia bayi sudah lebih dari 2 minggu namun masih kuning maka pengobatan harus dimulai sesegera mungkin. Pengobatan pada penyakit ini tergantung pada penyebabnya seperti kadar bilirubin, dan usia bayi. Menurut Indonesian Pediatric Society (IDAI), pengobatan tersebut antara lain:

  1. Memberikan ASI kepada bayi. Manfaat pemberian ASI adalah menjadikan bayi yang diberi ASI lebih mampu menghadapi efek penyakit kuning. Jumlah bilirubin dalam darah bayi akan banyak berkurang seiring diberikannya kolostrum yang dapat mengatasi kekuningan  
  2. Fototerapi, merupakan terapi sinar khusus untuk menurunkan kadar bilirubin darah. Fototerapi diberikan jika kadar bilirubin total > 10 mg/dl dalam 24 jam kelahiran. Lama fototerapi ditentukan berdasarkan kadar bilirubin neonatus dan periode waktu fototerapi dilakukan selama 24 jam terhadap perubahan kadar bilirubin dan dilakukan berulang hingga kadar bilirubin kembali normal
  3. Intravena immunoglobulin (IVIG), merupakan pengobatan apabila penyakit ini disebabkan oleh penyakit rhesus (ketika ibu memiliki darah rhesus-negatif dan bayi memiliki darah rhesus-positif)
  4. Transfusi pengganti, darah bayi akan dikeluarkan melalui tabung plastik tipis yang ditempatkan di pembuluh darah di tali pusar, lengan atau tungkai. Darah ini kemudian diganti dengan darah dari donor yang cocok (golongan darah yang sama). Karena darah baru tidak mengandung bilirubin, keseluruhan kadar bilirubin dalam darah bayi akan turun dengan cepat.
  5. Terapi medikamentosa, merupakan pemberian obat-obatan jenis phenobarbital yang dapat merangsang hati untuk menghasilkan enzim yang dapat mengubah molekul bilirubin yang tidak larut air menjadi molekul yang larut air dan dikeluarkan melalui urin.

Nah Sobat Sehat sudah paham ya, jangan panik dulu jika bayi anda mengalami kuning. Lakukan pemerikasaan dengan dokter agar mendapatkan terapi yang tepat.
Jika kalian membutuhkan obat, bisa langsung pesan di K24Klik.com.

#KanAdaK24Klik