Share this:

#SuaraTanpaRokok diramaikan oleh warganet bertepatan setelah kepulangan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho (7/7/2019). Penyebabnya adalah penyakit kanker paru-paru stadium empat yang telah diderita beliau selama satu setengah tahun terakhir.

Alm. Sutopo dan #SuaraTanpaRokok
Foto : Aloysius Jarot Nugroho / Antara Foto by https://www.medcom.id

Berita meninggalnya Bapak Sutopo telah menempati hati tersendiri di masyarakat Indonesia. Perjuangannya yang telah melawan penyebaran hoaks terhadap bencana yang akhir-akhir ini sering melanda tanah air sekaligus berusaha melawan kanker paru yang sedang dideritanya patut diacungi jempol. Bagaimana tidak? Beliau didiagnosa dokter menderita kanker paru stadium empat meskipun diketahui selama ini telah hidup sehat termasuk tidak merokok.

Disebutkan dalam video almarhum Sutopo kepada ABC Indonesia, beliau mengaku dikelilingi oleh lingkungan pekerja yang hampir semuanya merokok semasa hidupnya. Dalam akun instagram yang pernah diunggah, beliau menulis bahwa perokok pasif saja bisa sakit kanker paru-paru, apalagi perokok aktif.

Seberapa Bahaya Perokok Pasif?

Photo by Sara Kurfeß on Unsplash

Seseorang dikatakan perokok pasif apabila mereka (non-perokok) terpapar oleh asap pembakaran tembakau dan secara tidak langsung mengisap nikotin. Dilansir dari laman resmi American Cancer Society, terdapat dua jenis asap dari pembakaran tembakau yang biasa dihirup oleh perokok pasif, yaitu :

  1. Asap hembusan langsung dari perokok aktif.
  2. Asap yang berasal dari ujung rokok atau cerutu. Jenis ini termasuk agen penyebab kanker (karsinogen) dengan konsentrasi tinggi yang mudah masuk ke paru-paru dan sel tubuh lain. Hal ini disebabkan partikel nikotin pada ujung cerutu lebih kecil sehingga bersifat lebih toksik.

Banyak penelitian dan studi telah membuktikan bahwa asap rokok dapat menyebabkan kanker. Karena di dalam rokok terdapat lebih dari 4.000 bahan kimia dan 50 di antaranya dapat mengakibatkan kanker. Tidak hanya kanker paru-paru, perokok pasif juga berisiko terkena kanker mulut, kanker faring (tenggorokan), sinus hidung, hingga kanker payudara.

Selain itu, bukan hanya orang dewasa yang terancam terkena kanker tetapi anak-anak juga berisiko tinggi. Perokok pasif pada anak-anak bisa mengalami serangan asma atau memperburuk gejala asma, bahkan bisa menimbulkan bronkitis dini.

Risiko Bagi Perokok Pasif yang Tidak Disadari

Perokok pasif memiliki risiko hingga 2 kali lebih bahaya. Meskipun bahaya ini terlihat lebih kecil dibandingkan perokok aktif yang memiliki risiko hingga 13 kali lipat. Namun, perokok pasif maupun perokok aktif menghirup asap yang sama sehingga keduanya juga berisiko.

Sayangnya, gejala yang diperlihatkan oleh penyakit kanker paru-paru terlihat tidak spesifik, bahkan tidak disadari. Beberapa ahli menjelaskan, gejala awalnya adalah batuk-batuk biasa yang diikuti dengan sesak napas dan nyeri dada yang tak kunjung henti. Sedangkan bagi perokok aktif, batuk kecil sudah dianggap biasa.

Siapa Perokok Pasif?

Photo by Caleb Woods on Unsplash

Pada usia anak yang masih muda, SIDS atau Sindrom kematian bayi secara mendadak dapat menjadi masalah serius yang disebabkan dari kondisi SHS (Second Hand Smoke). SHS adalah kondisi ketika non-perokok terpapar oleh asap rokok, misalnya anak-anak yang terkena paparan asap di rumah.

Menurut survei dari Global Youth Tobacco (2006), lebih dari 43 juta anak Indonesia tinggal dengan perokok di rumah. Sekitar 89% anak-anak usia 13 – 15 tahun terpapar SHS di tempat umum. Tahun 2011, persentase perokok aktif di Indonesia meningkat sebesar 14% dari tahun lalu yang sebesar 53% (Depkes RI, 2013).     

Tagar #SuaraTanpaRokok Hadir Untuk Peduli Perokok Pasif

#SuaraTanpaRokok merupakan kampanye yang dibuat oleh beberapa organisasi non-pemerintah melalui website suaratanparokok.co.id. Kemudian diramaikan oleh warganet untuk menyampaikan dukungan kepada orang sekitar untuk mulai berhenti merokok. Tagar ini mulai viral di internet atau media sosial lainnya lewat video almarhum Sutopo dan penyakit kanker paru-paru yang dideritanya.

Gerakan #SuaraTanpaRokok dibuat untuk menginspirasi orang-orang agar berani bersuara dalam mengontrol penggunaan tembakau sebagai rokok. Gerakan ini bebas terbuka untuk penderita perokok pasif maupun mantan perokok aktif. Dimulai dari berani untuk bersuara di media sosial dengan menyertakan tagar #SuaraTanpaRokok, Sobat Sehat turut membantu kehidupan bangsa Indonesia lebih baik dan sehat.

Mulailah Berbenah Diawali dengan #SuaraTanpaRokok

Salah satu kutipan Bapak Sutopo dari video yang viral di internet dan patut untuk diperhatikan adalah :

Untuk anak muda, terutama anak-anak, jangan merokok. Tidak ada orang akan menilai, dia akan kelihatan gagah kalau merokok. Seperti iklan-iklan itu, itu sangat menyesatkan. Stoplah merokok. Ingat, bukan Anda, tapi untuk keluarga Anda, istri Anda, suami Anda, anak-anak Anda, dan sebagainya,

Pesan terakhir yang disampaikan oleh Bapak Sutopo memang benar adanya. Kebiasaan merokok yang tidak bisa diubah akan menyebabkan kerugian bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga orang di sekitar Anda. Belajarlah untuk berubah menjadi lebih baik dan sebarkan energi positif di sekitar Anda. Bukan melainkan racun yang Anda sebar. Salam Sehat!

Photo by Robert Collins on Unsplash

Sumber : diambil dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *