fbpx
Share this:

Dikurasi Oleh : Maretta Putri A., S.Farm., Apt.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyampaikan bahwa, dampak mewabahnya Covid-19 ini sangat berpengaruh terhadap rentannya terjadi Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang dikarenakan adanya penurunan jumlah pelayanan KB secara nasional dari masing-masing jenis alat obat kontrasepsi (alokon). Hal ini dindikasi bahwa Pasangan Usia Subur (PUS) yang memerlukan kontrasepsi tidak bisa mengakses layanan kontrasepsi di faskes dan menunda ke faskes selama Covid-19 jika tidak dalam kondisi gawat, karena adanya kekhawatiran PUS yang memerlukan kontrasepsi tertular Covid-19. Selain itu, Covid-19 juga sangat berpengaruh terhadap orang dengan sistem imun lemah, seperti Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang sangat rentan tertular Covid-19. 

KTD memiliki dampak yang luas seperti meningkatkan kasus aborsi, meningkatkan risiko kematian ibu dan anak, anemia pada ibu hamil, malnutrisi pada ibu hamil dan janin, bayi lahir prematur, berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan kurangnya kasih sayang dan pengasuhan karena anak tidak diinginkan.

BKKBN Pusat dan Provinsi terus berupaya memastikan keberlangsungan penggunaan alat dan obat kontrasepsi selama masa krisis bencana Covid-19, seperti : Pelayanan KB bergerak, kunjungan ke PUS yang memerlukan kontrasepsi. Menurunkan angka putus pakai alat dan obat kontrasepsi sehingga mencegah KTD dengan cara : mengoptimalkan peran PKB/PLKB dan penggerakan Mobil Unit Penerangan KB ke masyarakat untuk KIE Pencegahan Covid-19.

Sehingga disaat Pandemi Covid-19 ini, sebaiknya masyarakat mulai mengatur perencanaan kehamilan. Setiap kehamilan seharusnya direncanakan dan diinginkan. Namun pada kenyataannya banyak pasangan suami istri yang tidak dapat memenuhi kondisi tersebut. Oleh karena itu penting untuk merencanakan kehamilan dan menentukan jumlah anak dari sejak awal pernikahan melalui program Keluarga Berencana (KB).

Pengaturan jarak kehamilan dan perencanaan jumlah anak dapat dilakukan dengan mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Salah satu tujuan ber KB untuk menghindari “empat terlalu”, yaitu terlalu sering melahirkan (lebih dari 2 anak), terlalu dekat jarak antarkehamilan (kurang dari 2 tahun), usia terlalu muda saat hamil (kurang dari 20 tahun), dan usia terlalu tua saat hamil (lebih dari 35 tahun).

Salah satu program KB yang sedang digiatkan oleh Pemerintah adalah KB Pasca Persalinan (KB-PP) dimana metode kontrasepsi ini diterapkan segera setelah persalinan (0-42 hari setelah melahirkan). Dengan KB-PP seorang ibu lebih dimudahkan utuk mendapat pelayanan KB, karena pelayanan tersebut dapat diberikan sebelum ibu pulang dari fasilitas pelayanan kesehatan setelah melahirkan.

Ada beberapa metode KB Pasca Persalinan yang dapat dipilih oleh Sobat Sehat dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan kamu, yaitu:

1 Metode Amenore Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif, artinya bayi hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan ataupun minuman apa pun lainnya hingga usia 6 bulan.

2 Metode kondom (barier) adalah penggunaan selubung/sarung karet untuk menghalangi sperma masuk ke dalam rahim. Kondom dapat digunakan kapanpun, atau sebagai KB-PP sementara bila kontrasepsi lainnya harus ditunda.

3 Metode kontrasepsi pil, merupakan metode kontrasepsi pil yang mengandung hormon. Jika ibu menyusui memilih metode kontrasepsi pil, sebaiknya menggunakan pil yang hanya mengandung hormon progesteron agar tidak mengganggu produksi ASI.

4 Metode kontrasepsi suntikan, merupakan metode kontrasepsi hormonal yang terdiri dari suntik 3 bulanan dan suntikan bulanan. Jika ibu menyusui memilih metode kontrasepsi suntikan, sebaiknya menggunakan suntikan yang hanya mengandung hormon progesteron agar tidak mengganggu produksi ASI.

5 Metode kontrasepsi implan yaitu alat kontrasepsi hormonal di bawah kulit.

6 Metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan alat kontrasepsi yang dapat dipasang di dalam rahim. Saat ini, AKDR dapat dipasang segera (dalam 10 menit) setelah plasenta/ari-ari lahir. Selanjutnya, AKDR juga dapat dipasang dalam masa 10 menit – 48 jam pasca persalinan. Pemasangan segera setelah persalinan ini dapat menghindarkan ibu dari missed opportunity ber-KB.

7 Metode Operasi Wanita (MOW), merupakan metode permanen yang melibatkan prosedur pembedahan. Metode ini dapat dilaksanakan pada ibu yang yang tidak akan menginginkan lebih banyak anak

8 Metode Operasi Pria (MOP), merupakan metode permanen dan aman untuk suami. Metode ini dapat dilaksanakan pada suami yang tidak akan menginginkan lebih banyak anak

KB Pasca Persalinan dan Menyusui

Setiap ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak, salah satunya adalah ASI Eksklusif. Dengan KB pasca persalinan setiap ibu tetap dapat menyusui anaknya, karena banyak pilihan metode KB pasca persalinan yang tidak mengganggu produksi ASI. Beberapa alat dan obat kontrasepsi (Alokon) KB pasca persalinan yang tidak mengganggu produksi ASI adalah :

1. Non Hormonal

a. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR). Waktu pemasangan AKDR dibagi menjadi 2:

β€’ Pasca plasenta: dipasang dalam waktu hingga 10 menit setelah plasenta lahir (pada persalinan normal) dan pada waktu operasi caesar (persalinan caesar)

β€’ Pasca persalinan: dipasang antara 10-48 jam pasca persalinan atau dipasang antara 4 – 6 minggu setelah melahirkan

b. Metode Operasi Wanita (MOW). Dapat segera dilakukan pada persalinan Caesar dan untuk persalinan normal dapat dilakukan dalam waktu 48 jam pasca persalinan atau ditunda hingga 4-6 minggu pasca persalinan.

c. Metode Operasi Pria (MOP). Dapat dilakukan kapan saja.

d. Kondom. Memerlukan penggunaan secara benar dalam setiap aktivitas seksual untuk mencapai efektivitas maksimal. Kondom bukan hanya alat kontrasepsi KB tapi juga dapat mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS) pada saat berhubungan seksual.

2. Hormonal

a. Implan (progestin saja). Merupakan batang atau kapsul lunak kecil yang diletakkan tepat di bawah kulit lengan atas dan dapat memberikan perlindungan jangka pajang terhadap kehamilan (efektif untuk 3 hingga 7 tahun). Implan aman digunakan selama masa laktasi dapat dipasang minimal 4 minggu pasca persalinan.

b. Suntikan (progestin saja). Merupakan suntikan per 3 bulan dan aman untuk ibu menyusui setelah 6 minggu pasca persalinan.

c. Mini pil (progestin saja) Pil KB. Dapat diberikan pada ibu menyusui 6 minggu pasca persalinan. Mini pil ini tidak disediakan oleh Pemerintah.

Nah Sobat Sehat, semoga tidak kebingungan lagi untuk memilih alat Kontrasepsi ya..pilih secara tepat, bijaksana dan ada kesepakatan dari pasangan kalian. Disaat Pandemi Covid-19, sebaiknya Sobat Sehat lebih bijaksana dalam menyikapinya.

Semoga Sehat Selalu

Salam Sehat πŸ™‚

Sumber :
https://www.bkkbn.go.id/detailpost/cara-bkkbn-cegah-kehamilan-tidak-diinginkan-di-tengah-pandemi-covid-19-dan-cegah-odha-tertular-covid-19

http://kesga.kemkes.go.id/berita-lengkap.php?id=38

http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/ABPK%20Final.pdf


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *