Share this:

Tahukah, sobat sehat? Tanggal 24-30 April diperingati sebagai Pekan Imunisasi Sedunia.

Apa itu imunisasi?

Imunisasi adalah proses peningkatan sistem kekebalan tubuh dengan cara pemberian vaksin, yaitu bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus, sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau “liar”.

Vaksin dapat berupa virus atau bakteri yang telah dilemahkan atau dimodifikasi, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus).

Vaksin dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan atau diminum (peroral). Setelah vaksin masuk ke dalam tubuh, sistem pertahanan tubuh akan bereaksi membentuk antibodi, sama seperti jika tubuh kemasukan virus atau bakteri yang sesungguhnya. Selanjutnya, antibodi ini akan membentuk imunitas terhadap jenis virus atau bakteri tersebut. Vaksin juga bisa membantu sistem imun untuk melawan sel-sel penyakit seperti kanker.

injection

Jenis-jenis imunisasi

Berikut jenis-jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah dan dapat diperoleh secara gratis di Puskesmas atau posyandu :

1. BCG

Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) dapat diberikan sejak lahir. Imunisasi ini betujuan untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit tubercolocis (TBC). Apabila vaksin BCG akan diberikan pada bayi di atas usia 3 bulan, ada baiknya dilakukan dulu uji tuberkulin. BCG boleh diberikan apabila hasil tuberkulin negatif.

2. Hepatitis B

Vaksin Hepatitis B yang pertama harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir, kemudian dilanjutkan pada umur 1 bulan dan 3 hingga 6 bulan. Jarak antara dua imunisasi Hepatitis B minimal 4 minggu. Imunisasi ini untuk mencegah penyakit Hepatitis B.

3. Polio

Imunisasi Polio diberikan untuk mencegah poliomielitis yang bisa menyebabkan kelumpuhan.

4. DPT

Vaksin DPT adalah vaksin kombinasi untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus. Ketiga penyakit ini sangat mudah menyerang bayi dan anak. Imunisasi DPT diberikan pada bayi umur lebih dari 6 minggu. Vaksin DPT dapat diberikan secara simultan (bersamaan) dengan vaksin Hepatits B. Ulangan DPT diberikan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Usia 12 tahun mendapat vaksin TT (tetanus) melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

5. Campak

Vaksin Campak-1 diberikan pada usia 9 bulan, lalu Campak-2 pada usia 6 tahun melalui program BIAS.

 

Dan berikut beberapa jenis vaksin yang juga penting diberikan namun belum diwajibkan oleh pemerintah :

1. Hib

Pemberian Vaksin Hib (Haemophilus influenzae tipe B) ditujukan untuk mencegah penyakit meningitis atau radang selaput otak. Vaksin Hib diberikan mulai usia 2 bulan dengan jarak pemberian dari vaksin pertama ke vaksin lanjutannya adalah 2 bulan. Vaksin ini dapat diberikan secara terpisah ataupun kombinasi dengan vaksin lain.

2. MMR

Vaksin MMR diberikan untuk mencegah penyakit gondongan (mumps), campak (measles), dan campak jerman (rubela). MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan apabila belum mendapat imunisasi campak di umur 9 bulan. Umur 6 tahun diberikan imunisasi ulangannya.

3. Hepatitis A

Vaksin ini direkomendasikan pada usia diatas 2 tahun, diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 6 sampai 12 bulan.

4. Tifoid

Vaksin Tifoid direkomendasikan untuk usia diatas 2 tahun. Imunisasi ini diulang setiap 3 tahun.

5. Pneumokokus (PCV)

Apabila hingga usia di atas 1 tahun belum mendapatkan PCV, maka vaksin diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 2 bulan. Pada umur 2 hingga 5 tahun diberikan satu kali.

6. Influenza

Anak usia dibawah 8 tahun yang diimunisasi influenza untuk yang pertama kalinya direkomendasikan 2 dosis dengan jarak minimal 4 minggu.

 

Jadwal Imunisasi

Berikut jadwal imunisasi pada anak yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) :

Jadwal Imunisasi anak 2017

Pada orang dewasa juga perlu dilakukan imunisasi. Menurut rekomendasi PAPDI (Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, berikut jadwal imunisasi untuk dewasa yang dibagi dalam 2 kondisi :

 

jadwal-imunisasi-dewasa (1)jadwal imunisasi dewasa dengan sakit tertentu

Selain anak-anak dan dewasa, vaksinasi/imunisasi pada lansia/manula juga perlu dilakukan, mengingat sistem kekebalan tubuh pada umumnya telah menurun. Kondisi ini dapat diperparah dengan kurangnya asupan gizi atau tingkat penyerapan gizi oleh tubuh yang sudah menurun.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa, pertumbuhan lansia di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia dan pada tahun 2020 diperkirakan terdapat 25,5 juta lansia.

Pada tahun 2005 telah ada Konsensus Nasional Imunisasi untuk Usia Lanjut bagi mereka yang berumur mulai dari 60 tahun ke atas, karena jika lansia terkena penyakit infeksi, maka penyembuhannya akan sulit, apalagi banyak kuman yang sudah resisten terhadap antibiotik yang umum dan kondisi tubuhnya telah lemah.

Vaksinasi yang dianjurkan adalah:

1. Vaksinasi Influenza, sebaiknya diberikan pada komunitas di panti werdha maupun yang memiliki penyakit kronis, misalnya diabetes. Vaksinasi ini perlu diulang tiap tahun

2. Vaksinasi Pneumonia, sebaiknya diberikan pada komunitas di panti werdha dan bagi mereka yang pernah divaksinasi sebelum usia 60 tahun perlu dilakukan vaksinasi ulang/kembali, demikian juga yang mengalami penurunan kekebalan tubuh karena diabetes, gagal ginjal kronik, dan penyakit hati kronik.

 

Efek Samping Imunisasi

Pada umumnya, efek samping imunisasi tergolong ringan. Efek samping yang biasa terjadi, antara lain :

1. Nyeri atau bekas berwarna kemerahan di bagian yang disuntik
2. Demam
3. Mual
4. Pusing
5. Hilang nafsu makan

Sedangkan untuk efek samping yang tergolong parah, seperti kejang dan reaksi alergi, jarang sekali terjadi.

Pekan imunisasi Blog

Tujuan Pekan Imunisasi Sedunia

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi penuh sepanjang hidup, dan peran imunisasi dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030. Karena vaksinasi tidak hanya mencegah penderitaan dan kematian terkait dengan penyakit menular seperti pneumonia, diare, batuk rejan, campak, dan polio, vaksinasi juga membantu memungkinkan prioritas nasional seperti pendidikan dan pembangunan ekonomi terus berlanjut.

Pada tahun 2015, diperkirakan 19,4 juta bayi di seluruh dunia tidak terjangkau layanan imunisasi rutin seperti vaksin DTP3 (difteri-tetanus-pertusis). Sekitar 60% anak-anak ini tinggal di 10 negara, yaitu : Angola, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Irak, Nigeria, Pakistan, Filipina, dan Ukraina.

Untuk itu WHO bekerja sama dengan negara-negara di dunia dan mitranya untuk memperbaiki cakupan vaksinasi global dengan Global Vaccine Action Plan (GVAP). GVAP merekomendasikan 3 langkah utama untuk menutup celah imunisasi:

1. Mengintegrasikan imunisasi dengan layanan kesehatan lainnya, seperti perawatan pascakelahiran untuk ibu dan bayi;
2. Memperkuat sistem kesehatan sehingga vaksin terus diberikan bahkan di saat krisis; dan
3. Memastikan bahwa setiap orang dapat mengakses vaksin dan mampu membayarnya.

Imunisasi tidak hanya penting bagi kesehatan diri sendiri dan keluarga saja, namun juga dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi nasional dan seluruh dunia. Oleh karena itu, jangan ragu untuk menjadwalkan pemberian vaksin sejak dini, ya, sobat sehat. Temui dokter untuk mengatur jadwal imunisasi sobat sehat. (Dev/Wind)

 

Sumber :

medkes.com

alodokter.com

id.wikipedia.org

www.pbpapdi.org

http://www.idai.or.id/

World Health Organization : WHO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *