Anak stunting
Share this:

Anak stunting dijadikan target utama perbaikan pada program prioritas pemerintah dalam mencapai Program Indonesia Sehat.

Memasuki tahun 2019, Pemerintah semakin gencar atasi stunting sejak dini. Salah satu SDGs (Sustainable Development Goals) atau pembangunan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah upaya menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi. Lalu, apa sih stunting itu? Apakah tubuh pendek pasti stunting?

Kenali Perbedaan Pendek dan Stunting

Photo by Gabriel Baranski on Unsplash

Stunting (kerdil) merupakan kondisi di mana panjang dan tinggi badan anak kurang dari standar yang ditetapkan oleh WHO. Stunting pasti pendek, namun pendek belum tentu stunting. Menurut Dr. Aman Bhakti Pulungan dari IDAI, perbedaan stunting dan pendek terletak pada penyebabnya.

Penyebab tubuh pendek bisa dari berbagai hal, sedangkan stunting disebabkan oleh gizi buruk berkepanjangan (malnutrisi kronis) diikuti faktor terkait. Faktor tersebut bisa dari kondisi ekonomi, gizi ibu saat hamil, infeksi berulang dan kurangnya asupan gizi di masa mendatang.

Gambar 1. Masalah Gizi di Indonesia Tahun 2015 – 2017

Secara lebih spesifik, dalam membedakan antara pendek dan stunting perlu dipahami seperti apa pola pertumbuhan anak yang berperawakan pendek (short stature). Berdasarkan paparan Steven Dowshen, MD, pola pertumbuhan anak terbagi menjadi dua jenis yaitu Normal atau Tidak Normal.

Pendek Normal” biasanya terkait oleh genetik (keturunan). Seorang anak bisa tumbuh setinggi orang tuanya tetapi mengalami keterlambatan/growth delay. Mereka cenderung dapat mengejar tinggi teman-teman di masa dewasa meskipun proses pubertas mengalami perlambatan. Selain itu, kategori ini tidak diikuti oleh gejala penyakit atau gangguan pertumbuhan tertentu yang mempengaruhi tingkat dan kecepatan pertumbuhan.

Pendek Tidak Normal” merupakan kondisi gangguan pertumbuhan/growth disorder. Stunting termasuk dalam jenis gangguan pertumbuhan kategori gagal tumbuh. Kategori ini biasanya disebabkan oleh penyakit kronis hingga kelainan hormon (penyakit endokrin).

Intinya, kelainan hormon dan kelainan tulang pada orang tua yang pendek tidak masuk dalam stunting.

Berikan Perhatian Pada Kondisi Ibu dan Calon Ibu

Photo by Wes Hicks on Unsplash

Apakah risiko stunting dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan gizi ibu hamil? Tentu saja. Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum, saat kehamilan dan setelah persalinan sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dan risiko terjadinya stunting.

Faktor lain pada ibu yang mempengaruhi adalah : ibu yang masih remaja, jarak kehamilan terlalu dekat, postur tubuh ibu pendek serta asupan nutrisi yang kurang saat kehamilan. Usia kehamilan ibu yang terlalu muda (< 20 tahun) berisiko melahirkan anak BBLR atau Berat Bayi Lahir Rendah. BBLR memberikan risiko sekitar 20% terjadinya stunting pada anak.

Berdasarkan data survei Susenas tahun 2017, ditemukan anak perempuan usia 15-49 tahun sebesar 54,01% hamil pertama kali pada usia > 20 tahun. Usia ini termasuk usia ideal kehamilan. Sisanya pada usia 19-20 tahun sebesar 23,97%, usia 17-18 tahun sebesar 15,99%, dan usia di bawah 16 tahun sebesar 6,21%. Data ini menunjukkan bahwa setengah dari perempuan Indonesia yang pernah hamil mengalami kehamilan pertama di usia muda atau remaja.

Gambar 2. Persentase Perempuan Berumur 15 – 49 Tahun yang Pernah Hamil di Indonesia Tahun 2017
(Sumber : Susenas, Badan Pusat Statistik, 2017)

Melihat tingkat kehamilan mendominasi di rentang usia remaja, pemerintah melakukan upaya untuk memperbaiki asupan gizi sejak anak usia sekolah. Remaja putri sebagai calon ibu di masa depan seharusnya memiliki status gizi yang baik. Kondisi ibu sebelum masa kehamilan, baik status gizi dan postur tubuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting. Maka dari itu, perlunya perhatian perbaikan gizi sejak dini memang penting dilakukan.

Fase 1000 Hari Pertama Kehidupan

Photo by Eric Froehling on Unsplash

Seribu hari pertama kehidupan seorang anak dimulai sejak terbentuknya janin di dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Periode ini sering disebut window of opportunities atau periode emas. Kok bisa? Pada periode ini, proses tumbuh kembang sangat cepat dan tidak terjadi di kelompok lain. Perkembangan sel-sel otak juga ditentukan di masa tersebut. Apabila terjadi gangguan di periode itu, dampaknya akan permanen dan sulit untuk diperbaiki.

Dalam hal ini, Kemenkes telah memutuskan adanya intervensi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia. Salah satunya adalah pemenuhan gizi mikro berupa pemberian vitamin A, Seng dan Zat besi bisa mencegah anemia serta kekurangan yodium. Kedua hal ini berperan penting dalam mencegah terjadinya stunting di usia pertumbuhan.

Kekurangan Vitamin A (KVA) : Risiko Terbesar Anak Terkena Stunting

Vitamin A berperan dalam mengoptimalkan fungsi beberapa organ dalam tubuh. Memperbaiki penglihatan, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, serta nafsu makan meningkat adalah beberapa keuntungan dari konsumsi vitamin ini. Sumber vitamin A bisa ditemukan di makanan sayur dan buah. Sayuran yang berwarna jingga diketahui lebih banyak mengandung vitamin A.

Pada penelitian survei oleh mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNAIR (2018), ditemukan bahwa balita stunting umumnya tidak mengonsumsi buah dan hanya suka dengan kuah sayur. Selain itu, lauk pauk sumber vitamin A yang dikonsumsi balita stunting adalah telur, ikan tongkol dan pindang. Suplementasi vitamin A dosis tinggi dapat dijadikan alternatif lain untuk meningkatkan asupan vitamin A.

Berikan Ini di 1000 Hari Pertama Kehidupannya

Sobat Sehat ada yang tahu, kalau K24Klik juga menyediakan suplementasi dan nutrisi lain untuk mendukung asupan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan? Apa yang kita alami, lakukan ataupun makan selama 1000 Hari Pertama Kehidupan akan memberikan konsekuensi yang panjang terhadap kesehatan di masa depan. Mulailah sejak awal kehamilan, berikan asupan terbaik ini agar terhindar dari stunting :

Pemenuhan zat gizi mikro sebagian besar tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga dapat ditingkatkan dengan makan makanan yang beragam dan seimbang. Vitamin A banyak pada buah dan sayur serta zat besi dan seng paling sering berasal dari sumber makan hewani.

Dengan memastikan tersedianya nutrisi tepat selama 1000 Hari Pertama Kehidupan akan berdampak besar pada masa depan anak. Pemberian nutrisi yang baik membuka potensi untuk menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia setiap tahunnya. Upaya mengurangi kondisi kesehatan seperti kekurangan gizi, anak stunting, obesitas dan diabetes terus dilakukan. Baik dari calon ibu dan ibu di fase 1000 Hari Pertama Kehidupan.

Sumber : Pusat Data dan Informasi Kemeskes RI (Balita Pendek/Stunting di Indonesia), 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *