Share this:

Kehamilan pada ODHA, Ini Mitos dan Faktanya

kehamilan pada ODHA
https://www.freepik.com

Sobat Sehat, HIV/AIDS memang masih menjadi momok bagi sebagian besar orang. Ini tidak lepas dari banyaknya mitos yang beredar seputar penyakit ini terutama seputar hubungan suami – istri dan kehamilan. Sering kali, penderita HIV/AIDS atau yang lebih sering dikenal dengan ODHA, dianggap tidak memiliki harapan lagi untuk hamil dan melahirkan.

Namun ternyata, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ibu yang berstatus ODHA bisa dan mungkin saja menjalani kehamilan dan melahirkan dengan normal. Bagaimana dengan kondisi anaknya? Untuk mengetahuinya, mari kita simak beberapa fakta dan mitos mengenai kehamilan pada ODHA berikut.

  1. Bayi yang Lahir dari Kehamilan pada ODHA Sudah Pasti Positif HIV/AIDS

Hal ini bisa dikatakan sebagai mitos. Saat ini, sudah terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk menekan risiko penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi yang dikandungnya. Di Indonesia sendiri, risiko penularannya berkisar di angka 21% – 43%.

Salah satunya adalah dengan mengontrol tingkat virus hingga tidak terdeteksi dalam darah. Walaupun virus masih terdapat dalam tubuh, dengan level yang rendah risiko penularan akan semakin berkurang. Bahkan, risiko penularan bisa mencapai nol persen jika ibu mengonsumsi obat ART secara rutin dan memiliki level virus di bawah 1.000.

Selain itu, meminimalisasi hubungan seksual dengan pasangan yang juga mengidap HIV/AIDS selama kehamilan juga memperkecil kemungkinan bayi tertular virus. Untuk itu, kehamilan pada ODHA harus direncanakan dan dipantau bahkan hingga pasca melahirkan nanti.

  1. Terdapat Risiko Berbeda pada Tiap Tahap Kehamilan

kehamilan pada ODHA
https://www.freepik.com

Faktanya, tergantung jumlah virus di dalam tubuh sang ibu, terdapat risiko yang berbeda untuk setiap tahap kehamilan. Ibu yang mengalami kehamilan pada ODHA ini harus mempelajari setiap tahapnya dengan matang untuk mengerti risiko dan cara pencegahannya.

Selama berada di kandungan, risiko bayi tertular penyakit ini adalah sekitar 6%. Risiko terbesar terjadi pada saat proses persalinan yaitu sebesar 18%. Ketika melalui jalur lahir, ada kemungkinan bayi menelan darah atau cairan vagina ibu yang berisi virus HIV/AIDS.

Setelah itu, bayi masih mungkin terpapar virus pasca persalinan melalui ASI. Kemungkinan ibu mengalami mastitis pada awal menyusui akan meningkatkan risiko darah tertelan oleh bayi dan tertular HIV/AIDS.

  1. Bayi dari Ibu ODHA Wajib Mendapatkan Pengobatan Begitu Lahir

Ini juga merupakan fakta dari kehamilan pada ODHA. Walaupun bayi dan ibu sudah melewati persalinan dengan lancar dan virus tidak ditemukan pada darah bayi, pengobatan harus tetap dilakukan.

Biasanya anak akan diberi semacam AZT yang mencegah perkembangan virus HIV/AIDS di dalam darah. Di Indonesia, bayi yang lahir dari ODHA wajib diberikan AZT sebanyak dua kali sehari selama enam minggu. Ini bisa menekan risiko penularan hingga mencapai angka 2% saja.

Suplemen untuk Kehamilan pada ODHA

Kehamilan pada ODHA bisa dicegah dengan menekan level virus dan meningkatkan imunitas sang ibu. Untuk itu, suplemen yang bisa memperkuat imun tubuh mungkin diperlukan bagi ODHA yang sedang menjalani kehamilan.

Salah satunya adalah dengan mengonsumsi Viusid Sach yang bisa Anda temukan di K24Klik.com. Dengan fitur live chat, coba konsultasikan penggunaan vitamin tersebut terutama jika Anda merasa membutuhkannya. Namun, yang terpenting adalah tetap mengonsultasikan kondisi kehamilan pada ODHA dengan dokter untuk mendapatkan anjuran terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *