Share this:

Kanker Anak Stadium Awal dan Harapan untuk Sembuh!

kanker anak

Kanker anak pada stadium awal, memiliki harapan besar untuk disembuhkan. Maka, kenali jenis dan gejala kanker pada anak, lakukan deteksi dini, serta langkah preventif, dengan segera dan saksama!

Pita kuning terpasang, menceritakan tentang anak-anak yang sedang berjuang. Kita mengenal 15 Februari sebagai Hari Kanker Anak Internasional, namun setiap hari, sepanjang tahun, merupakan waktu berharga bagi anak-anak survivor kanker dan keluarga mereka. Sekuat tenaga, para survivor meletakkan harapan terbaik, di atas fakta bahwa kanker, merupakan penyakit tidak menular (PTM) penyebab kematian utama di seluruh dunia, setelah penyakit kardiovaskular.

Pasalnya, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 dari Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit kanker pada penduduk semua umur di Indonesia sebesar 1,4‰ atau sekitar 347.792 orang. Sementara itu, prevalensi kanker pada anak-anak usia 0-14 tahun sebesar 0,5‰ atau sekitar 16.291 orang. Dalam data Union for International Cancer Control (UICC), di seluruh dunia, setiap tahun ada sekitar 176.000 anak didiagnosis kanker dan di Indonesia terdapat sekitar 11.000 kasus.

Maka, Hari Kanker Anak Internasional (15 Februari) mau pun Hari Kanker Sedunia (4 Februari), merupakan momentum yang lebih dari sekadar peringatan. Sosialisasi yang bertujuan memperkenalkan dan meningkatkan kesadaran publik terhadap penyakit kanker mutlak diperlukan. Karena, deteksi dini serta tindakan preventif hanya dapat dilakukan jika, faktor dan gejala penyakit telah mampu dikenali. Kegiatan motivasi, hiburan, dan pendampingan juga wajib dilaksanakan demi peningkatan kualitas hidup dan semangat para survivor.

Mengenal Karakteristik, Jenis, dan Gejala Kanker pada Anak

Penggunaan terminologi “kanker anak”, umumnya merujuk pada diagnosis kanker di usia 0-18 tahun. Kendati berbahaya, kanker anak pada stadium awal masih dapat disembuhkan melalui pengobatan dan terapi. Hanya saja, ketidaktahuan, keterbatasan pengetahuan dan biaya, serta takut terhadap diagnosis, menjadi sederet alasan yang membuat banyak orang tua datang ke pelayanan kesehatan saat kanker anak sudah berada pada stadium lanjut.

Kondisi semacam ini, kerap terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Akibatnya, prognosis pada anak yang terdiagnosis kanker, menjadi lebih kecil dibandingkan negara maju yang mencapai 80%. Belum lagi, fasilitas diagnostik yang kurang memadai pada layanan kesehatan primer, juga turut memengaruhi efektivitas pengobatan.

Yang harus dicermati, faktor risiko penyakit kanker pada anak, memiliki perbedaan dengan orang dewasa. Penerapan pola hidup sehat yang bisa menjadi upaya pencegahan kanker di usia dewasa, tidak berpengaruh pada kanker anak, karena terjadi akibat faktor genetik, karsinogen kimiawi, paparan radiasi, atau infeksi virus.

Meskipun begitu, para orang tua dapat melakukan pengendalian penyakit kanker pada anak, melalui identifikasi dan deteksi dini. Maka, ketahui terlebih dahulu delapan jenis dan gejala kanker pada anak yang sering terjadi di Indonesia, berikut ini:

1. Leukimia

Leukimia atau kanker darah, menyerang sumsum tulang belakang, hingga mengakibatkan produksi sel darah putih yang abnormal dan berlebihan. Dalam kondisi tersebut, akan terjadi penumpukan, dan membuat sel-sel darah yang normal terus berkurang. Berdasarkan data dari RSK Dharmais dan OMNI Hospital, leukimia merupakan jenis kanker yang paling banyak terjadi pada anak-anak.

Gejala leukimia stadium awal sulit dideteksi karena mirip dengan penyakit lain, seperti muntah-muntah, penurunan berat badan, pucat, dan demam. Namun, Anda harus waspada jika anak sering mengalami pendarahan pada kulit (memar), gusi, dan hidung (mimisan). Jika sel kanker telah menyebar, dapat muncul gejala lain seperti kejang, nyeri sendi dan tulang, perut membesar, dan testis membengkak. Pengobatan bisa melalui kemoterapi atau transplantasi sel punca (stem cell).

2. Limfoma, Jenis Kanker Anak karena Faktor Genetik

Jenis kanker ini menyerang sistem limfatik yang merupakan penghubung kelenjar getah bening di tubuh manusia. Limfoma pada anak bisa disebabkan oleh faktor genetik, virus EBV, atau imunitas tubuh yang lemah. Gejala yang nampak berupa pembengkakan atau pembesaran kelenjar, biasanya pada leher, selangkangan, ketiak, bahkan usus. Jika limfoma telah mengakibatkan sumbatan pada usus, akan terjadi gejala sakit perut, muntah, demam, dan tidak bisa BAB.

3. Rhabdomyosarcoma (RMS)

RMS biasanya menyerang anak -anak di bawah 10 tahun. Sel kanker RMS tumbuh pada jaringan otot atau jaringan ikat, biasanya di kepala, leher, kandung kemih, prostat, dan vagina. Faktor risiko RMS antara lain pengaruh eksternal (lingkungan) dan genetik. Gejala yang nampak akan bervariasi tergantung bagian tubuh yang terserang kanker, antara lain:

  • Kepala dan mata: sakit kepala, kelopak mata turun, gerakan mata tidak normal, atau bola mata menonjol.

  • Telinga: rasa nyeri, bahkan keluar darah dari telinga.

  • Hidung dan tenggorokan: saluran napas tersumbat, sulit menelan, radang sinus, atau mimisan.

  • Saluran kemih: gangguan BAK atau air seni mengandung darah.

  • Otot anggota gerak: timbul pembengkakan atau benjolan.

4. Kanker Otak

Kanker otak merupakan stadium lanjutan (3 dan 4) dari tumor otak yang bersifat ganas dan menyebar hingga syaraf tulang belakang. Tumor ini bisa berupa sel-sel otak yang tumbuh secara tidak wajar, atau bisa juga berasal dari tumor pada bagian tubuh lain yang menyebar hingga ke otak. Jenis kanker ini bisa berakibat buruk terhadap penglihatan, kemampuan motorik, bicara, serta pola pikir selama dan setelah proses pengobatan kanker pada anak.

Gejala yang timbul bersifat subyektif, tergantung ukuran dan bagian otak yang terserang. Pada umumnya, akan mengganggu fungsi otak, sakit kepala, hingga kejang-kejang. Selain itu, anak pengidap kanker otak biasanya mudah mengantuk, merasa lelah yang berlebihan, gangguan penglihatan, bicara, mau pun berjalan, serta muntah-muntah.

5. Karsinoma Nasofaring (KNF), Jenis Kanker Anak yang Sulit Dikenali

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah kanker yang menjangkiti area nasofaring, yaitu antara pangkal rongga hidung hingga langit-langit tenggorokan. Pada anak mau pun dewasa, gejala KNF tidak spesifik dan sulit dikenali. KNF pada anak dapat dikenali, setelah stadium lanjut, dan muncul gejala sebagai berikut:

  • Pusing

  • Hidung tersumbat

  • Pembengkakan kelenjar getah bening (benjolan pada leher)

  • Otot rahang kaku dan kesulitan membuka mulut (trismus)

  • Pendengaran terganggu dan infeksi telinga

  • Mimisan

  • Darah pada air liur

Sebaiknya, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut bagi anak yang memiliki faktor risiko genetik atau riwayat keturunan KNF. Diagnosis bisa dilakukan setelah pemeriksaan menggunakan CT scan, MRI, X-ray, dan tes pencitraan PET (Positron Emission Tomography). Stadium KNF ditentukan berdasarkan luas penyebaran sel kanker.

6. Osteosarcoma (Jenis Kanker Anak dan Remaja yang Menyerang Tulang)

Osteosarcoma merupakan jenis kanker tulang yang paling sering menyerang anak-anak dan remaja. Alasannya, karena sel kanker ini menjangkiti tulang-tulang berukuran besar dalam masa pertumbuhan yang pesat. Oleh sebab itu, usia 0-24 tahun lebih rentan mengidap osteosarcoma, dengan risiko lebih besar pada laki-laki. Kendati termasuk kanker agresif, osteosarcoma bisa diupayakan untuk sembuh melalui kombinasi beberapa metode pengobatan.

Gejala yang terasa pada anak pengidap osteosarcoma, antara lain nyeri tulang atau persendian, sakit ketika disentuh, gerakan tubuh terbatas, dan nyeri saat mengangkat suatu benda yang cukup berat. Sementara itu, gejala yang nampak meliputi benjolan atau keretakan di sekitar tulang. Pada umumnya, osteosarcoma menyerang tulang kering, paha, atau lutut, dan bisa juga tumor tumbuh pada tulang bahu, tulang panggul, dan rahang.

7. Retinoblastoma, Kanker pada Anak Usia di Bawah 5 tahun

Kanker yang umumnya terjangkit pada anak berusia kurang dari 5 tahun ini, menyerang retina mata. Faktor genetik diduga menjadi penyebab dari kanker jenis ini. Pada umunnya, gejala yang nampak berupa warna putih pada mata saat disinari cahaya (seperti mata kucing), juling, gangguan penglihatan, bola mata menonjol, hingga kebutaan pada stadium lanjut.

Pengobatan retinoblastoma pada anak bisa dilakukan dengan terapi laser jika masih dalam stadium ringan. Metode lain bisa menggunakan krioterapi, termoterapi, kemoterapi, sesuai level stadium kanker pada anak. Tindakan pengangkatan bola mata dilakukan, apabila kanker sudah meluas.

8. Neuroblastoma

Kanker yang menyerang sistem syaraf balita ini, merupakan kanker pada anak yang tergolong langka. Gejala yang timbul bervariasi tergantung syaraf tubuh yang terserang. Apabila syaraf tulang belakang yang terjangkit, maka tubuh bagian bawah akan mati rasa, lemah, dan pergerakannya terganggu. Jika pada tulang, maka akan mengalami gangguan pergerakan dan nyeri tulang. Sementara itu, nyeri dada, sesak napas, bahkan kelainan pada mata, dapat terjadi apabila neuroblastoma menyerang bagian dada.

Mengetahui jenis dan gejala kanker anak sejak dini dapat membantu penderita untuk mendapatkan penanganan yang terbaik dan mencapai kesembuhan. Segera pergi ke layanan kesehatan terdekat, apabila Anda menemukan gejala-gejala kanker pada anak saat melakukan deteksi dini.

(Tia/Dev)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *