Share this:

Darah Tinggi saat Hamil, Lebih dari Sekedar Hipertensi Biasa

darah tinggi saat hamil

Setiap ibu hamil pasti mendambakan janinnya selalu dalam kondisi sehat dan dapat menjalani proses persalinan normal. Namun, ada beberapa kondisi yang menjadi mimpi buruk bagi setiap ibu hamil. Salah satunya adalah preeklampsia.

Apa itu preeklampsia?

Preeklampsia, adalah suatu komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi saat hamil. Kondisi ini juga diikuti dengan tanda-tanda kerusakan organ, seperti kerusakan ginjal berupa proteinuria, dan pembengkakan kaki. Ibu hamil juga mengalami keluhan sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, sensitif terhadap cahaya, sesak nafas, mual dan muntah, serta nyeri perut yang muncul dibagian atas, di bawah rusuk sebelah kanan.

Preeklampsia merupakan kondisi yang mungkin dialami oleh setiap wanita hamil. Terlebih pada kehamilan berulang, dimana ibu hamil telah mengalami darah tinggi saat hamil pada kehamilan pertamanya. Kondisi preeklampsia ini terjadi karena ada gangguan perkembangan pada plasenta, yang merupakan organ untuk menyalurkan darah dari ibu ke bayi dalam kandungan.

Selain itu, resiko preeklampsia juga dapat terjadi pada wanita hamil dengan kriteria :

1. Memiliki riwayat hipertensi,
2. Memiliki riwayat keluarga dengan preeklampsia,
3. Hamil kembar,
4. Usia ibu pada saat hamil di atas 35tahun,
5. Obesitas pada awal kehamilan,
6. Ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit kronis sebelum kehamilan seperti ginjal, diabetes, penyakit ginjal, dan penyakit autoimun seperti lupus.

Preeklampsia umumnya terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu, dengan tekanan darah ibu hamil mencapai angka 140/90 mmHg. Kondisi ini sering dianggap sepele dan tidak berbahaya karena ‘hanya sekedar kenaikan tekanan darah’. Faktanya, tidak hanya berbahaya bagi ibu hamil, namun preeklampsia juga sama berbahayanya bagi janin. Darah tinggi saat hamil pada ibu dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada janin berupa edema paru, gagal ginjal, gagal jantung, kelahiran prematur, perkembangan janin terhambat, dan bahkan janin mati dalam kandungan.

pregnant checkup

Mengatasi Darah Tinggi saat Hamil

Satu-satunya cara menyembuhkan preeklampsia adalah dengan melahirkan bayi (biasanya dilakukan pada kehamilan usia 32-38 minggu), secara diinduksi atau melalui operasi caesar. Namun, pada kehamilan yang masih muda, dokter akan memberikan tindakan untuk mengatasi preeklampsia yang terdeteksi, diantaranya :

  1. Perawatan untuk menurunkan tekanan darah. Ibu hamil akan diberikan resep obat penurun tekanan darah yang aman oleh dokter. Tindakan mengkonsumsi obat penurun tekanan darah ini sebaiknya atas anjuran dokter dan bukan inisiatif pribadi.
  2. Pemberian obat antikejang. Diberikan untuk ibu hamil dengan gejala preeklampsia berat.
  3. Pemberian kortikosteroid. Hanya diberikan kepada ibu hamil yang mengalami preeklampsia dengan sindrom HELLP (hemolisis, peningkatan enzim hati, dan kadar platelet rendah)
  4. Tindakan rawat inap. Jika preeklampsia tergolong berat dan membutuhkan monitoring rutin, ibu hamil sebaiknya menjalani rawat inap untuk memudahkan dokter mengontrol kondisi kesehatannya.

birth

Sebagian besar kasus preeklampsia ini akan sembuh setelah kelahiran. Meskipun terdapat resiko eklampsia yang mengancam kesehatan ibu dan bayi, resiko tersebut sangat jarang terjadi. Eklampsia sendiri merupakan suatu kondisi preeklampsia yang disertai kejang atau kontraksi otot-otot, yang dialami oleh wanita hamil. Janin yang dikandung bisa tewas ketika ibu sedang kejang-kejang. Selain membahayakan janin, eklamsia juga mengancam keselamatan sang ibu.

Karena alasan tersebut, setiap ibu hamil disarankan untuk memonitoring tekanan darahnya secara rutin dan tidak boleh capek. Agar setiap gangguan kehamilan yang muncul, seperti preeklampsia dapat teratasi sejak dini. (Dev/Wind)

 

Sumber : Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *