Waspada! Bali Belly Menyerang Wisatawan Saat Musim Liburan

bali

Saat liburan akhir tahun, Bali diserbu oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Jumlah mereka diprediksi jauh lebih banyak dari biasanya, karena memanfaatkan momentum liburan akhir tahun. Sepanjang Oktober 2016, wisatawan mancanegara yang bertandang ke Pulau Dewata mencapai 432.215 kunjungan. Jumlah ini meningkat 16,9 persen dibandingkan tahun lalu.

Meski menawarkan keindahan alam, Bali juga menyisakan cerita kelam bagi para wisatawan asing yang pernah mengalami diare, atau dikenal dengan Bali Belly. Istilah Bali Belly sangat dikenal oleh dunia traveling internasional karena sering menyerang para turis mancanegara, dan ditulis sebagai peringatan penting dalam berbagai blog dan media kelas dunia untuk mereka yang akan menginjakkan kaki di Bali.

Selain diare, penderita juga mengalami muntah, sakit dan kejang perut. Kondisi ini disebut gastroenteritis yang ditandai dengan peradangan pada saluran pencernaan, seperti lambung dan usus halus. Bali Belly bisa menyerang siapa saja, termasuk anak kecil dan dewasa. Bahkan bek andalan klub elit Manchester United, Chris Smailing, pun sempat “tumbang” saat menikmati liburan di Bali pertengahan tahun ini karena masalah diare.

Penyakit bali belly

“Diare atau Bali Belly memang sering menyerang para turis asing di Bali. Penyakit ini erat kaitannya dengan kebersihan makanan yang dijual serta kesadaran turis terhadap kebersihan. Di Bali, banyak juga penjaja makanan yang melayani konsumen dengan tangan, padahal mereka baru saja memegang uang kertas yang mungkin kotor. Ini bisa memicu diare. Konsumen juga harus selalu mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di toilet dan memegang uang,” ujar dr. Stephanie Patricia, dari Medi-call Indonesia, startup yang baru saja merilis aplikasi on-call berbasis lokasi.

Sensasi menikmati street food di Bali memang bisa membangkitkan selera. Namun saat Bali Belly menyerang, rencana liburan akhir tahun Anda terancam berantakan. “Gejala Bali Belly bisa diawali dengan demam dan keram, lalu kadang dilanjutkan dengan muntah dan diare disertai darah. Karena kekurangan cairan, tubuh akan terasa lemas. Pasien disarankan agar mendapat asupan cairan yang cukup,” tambah dr. Stephanie.

Pasien penderita Bali Belly harus segera mendapatkan penanganan medis agar penyakit tidak bertambah parah. Seperti Chris Smailing yang sempat pingsan, pasien yang terlambat mendapat penanganan dokter harus dirawat secara intensif di rumah sakit.

Dan kini para wisatawan di Bali akan mendapat penanganan lebih cepat dengan aplikasi Medi-call. Melalui aplikasi ini, mereka dapat melakukan booking dokter, ambulans dan tenaga medis lain melalui smartphone. “Saat ini aplikasi Medi-call sudah didukung oleh lebih dari 100 dokter di Bali yang memiliki  STR (surat tanda registrasi) dan SIP (surat izin praktik). Kami merekrut mereka melalui proses pelatihan dan prosedur standar pelayanan yang sesuai, sehingga profesionalitas layanan Medi-Call dapat dipercaya,” tambahnya. Saat ini, Medi-call telah tersedia untuk pengguna Android dan akan segera hadir di iOS. Awal 2017, Medi-call akan segera dirilis di Jakarta dan Yogyakarta.

Layanan Medi-call ini juga diintegrasikan dengan layanan pemesanan obat secara online, sehingga pasien yang telah menerima resep dapat langsung menebusnya melalui apotek online K24Klik.com. Dengan dukungan jaringan apotek K-24 yang tersebar luas, pengguna Medi-call dijamin memperoleh obat yang asli dengan cepat.

Bagikan & sehatkan dunia :
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone