Malas Minum Obat, Sembuh Enggan Mendekat

 

obat-obatan

Nanti juga sembuh sendiri, obatnya mahal, malas pergi ke apotek, rasa obatnya tidak enak, dan masih ada segudang alasan lagi yang membuat pasien tidak patuh minum obatnya sehingga menyebabkan penyakitnya tidak kunjung sembuh. Tidak jarang juga, ketidakpatuhan tersebut menjadi bumerang bagi pasien dan menimbulkan penyakit baru.

Selain beberapa alasan di atas, ada juga pasien yang tidak meminum obatnya karena ketidaktahuan mereka akan aturan pakai dari obat yang mereka peroleh dan betapa pentingnya kepatuhan minum obat sesuai dengan anjuran dokter. Kebanyakan pasien berhenti mengkonsumsi obat ketika mereka merasa kondisi kesehatan mereka sudah membaik.

Padahal, kondisi kesehatan yang membaik belum tentu menjadi indikasi bahwa penyakit mereka sudah sembuh. Terutama untuk sakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri yang memang memerlukan terapi pengobatan yang tuntas, maupun untuk penyakit kronis yang tidak lantas sembuh hanya dengan satu atau dua kali terapi saja. Hampir 50% pasien yang menderita penyakit kronis tidak menebus resep yang ketiga, sehingga tujuan terapi yang diinginkan dokter pun tidak tercapai.

Untuk mengubah kebiasaan minum obat yang tidak benar tersebut, diperlukan peran berbagai pihak, diantaranya : dokter penulis resep, apoteker, keluarga atau orang terdekat pasien, dan tentu saja yang paling penting adalah kesadaran dari pasien sendiri akan pentingnya menjaga kesehatan pribadi.

Dokter, selaku penulis resep, tentu saja hanya dapat memberikan edukasi saat pasien kontrol atau melakukan pemeriksaan kesehatan saja dan tidak dapat memonitor kepatuhan pasien menebus maupun meminum obatnya. Di sinilah peran apoteker atau tenaga kesehatan, sangat diperlukan. Konsultasi yang baik dan follow-up dari apoteker, dirasa lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien meminum obat mereka hingga tuntas.

Sebagai tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dan memiliki intensitas lebih banyak bertemu dengan pasien, ditambah dengan konsultasi yang ramah dan nyaman, akan membuat apoteker lebih dipercaya oleh pasien. Selain itu, untuk obat yang memiliki aturan pakai yang rumit, apoteker harus menjelaskan dengan sabar dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pasien maupun keluarga atau orang terdekat pasien. Karena hampir 46% pasien tidak memahami instruksi dosis pemakaian obat secara tepat.

Terakhir, dukungan keluarga sangatlah penting dalam mencapai kesembuhan pasien. Termasuk di dalamnya, peran serta keluarga dalam mengingatkan pasien untuk meminum obatnya sesuai dengan anjuran yang telah disampaikan dokter maupun apoteker.

Kepatuhan minum obat adalah salah satu kunci pencapaian kesembuhan Anda.

 

Bagikan & sehatkan dunia :
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published.