Bahaya! Pekerja di Kota Besar Malas ke Dokter.

Tuntutan pekerjaan yang begitu tinggi dan persaingan yang sangat ketat, memaksa pekerja kantoran harus fokus dengan tugas-tugas di kantor. Risikonya, mereka mengabaikan sinyal-sinyal tubuh yang membutuhkan perhatian ekstra agar tidak menjadi sakit yang lebih parah.

startup-photos (1) (1) (1) (1) (1)

Riset yang dilakukan Zocdoc, perusahaan layanan kesehatan online di Amerika Serikat, dan Kelton Global pada Agustus 2016 mengungkapkan bahwa 60% dari pekerja di Amerika Serikat merasa tidak nyaman untuk meninggalkan pekerjaan untuk memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit. Yang lebih mengejutkan, separuh dari mereka merasa budaya perusahaan telah membentuk mereka memiliki pemahaman tersebut.

Bagi masyarakat Indonesia, kepedulian terhadap kesehatan dapat tergambar dari Riset Profil Kesehatan Indonesia 2014, yang dilakukan Kementrian Kesehatan. Orang Indonesia ternyata hanya menghabiskan 3,29% dari total pengeluaran perbulan untuk kesehatan. Angka ini bahkan lebih kecil daripada pengeluaran untuk produk tembakau, termasuk rokok, yaitu 6,3%.

“Kondisi perkotaan juga mempengaruhi pekerja urban untuk mager alias malas bergerak untuk ke dokter atau rumah sakit. Mereka sudah merasa tertekan dengan pekerjaan di kantor. Nah, berhadapan dengan kemacetan bisa mengundang stress lain,” ujar dr. Candra Wijanadi dari Medi-call, yang berpraktik di Bali.

Bagi pekerja urban, waktu sangat berharga. Selain kemacetan di jalan, mereka juga khawatir waktu terbuang karena harus antre saat pengurusan administrasi di rumah sakit, ruang periksa dokter hingga pengambilan obat. Stres tambahan adalah saat mereka melihat biaya dokter dan obat yang membengkak. Jadi, kenapa harus ke rumah sakit?

“Yang mereka tidak sadari, menunda pemeriksaan ke dokter atau rumah sakit justru berisiko meningkatkan biaya kesehatan di masa depan. Ini karena sinyal-sinyal tubuh diabaikan, sehingga sakit sudah semakin parah,” tambah dokter lulusan Universitas Udayana, Bali, ini.

Lalu apa solusinya? Masyarakat perlu menyadari bahwa kesehatan adalah prioritas utama. Karena itu, kemacetan di jalan, antrean panjang di rumah sakit harus dihindari agar layanan kesehatan dapat diperoleh dengan cepat. “Misalnya dengan memanggil dokter ke rumah, kantor, mal atau tempat bertemu di mana saja saat diperlukan. Jangan ada toleransi terhadap sinyal tubuh, segera cari tahu masalahnya,” ujar dr. Stephanie Patricia dari Medi-call, yang saat ini juga melayani pasien di Rumah Sakit Mangusada, Bali.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini sejumlah dokter Indonesia bahkan sedang bersiap meluncurkan sebuah aplikasi berbasis Android dan iOS, bernama Medi-call. “Aplikasi inilah yang akan menjawab persoalan jutaan penduduk perkotaan di Indonesia, sehingga pasien dapat memesan dokter, ambulans dan layanan kesehatan lain untuk datang ke rumah dan tempat lainnya melalui smartphone. Kami akan integrasikan dengan layanan pemesanan obat secara online, sehingga pasien nyaman dan tidak terganggu aktivitasnya,” tambahnya. Dengan dukungan jaringan apotek K-24 yang tersebar luas, pengguna Medi-call dijamin memperoleh obat yang asli dengan cepat.

Akhir tahun ini, aplikasi yang akan melibatkan ratusan dokter yang telah memiliki surat ijin praktek dan mendapat pelatihan dari Ikatan Dokter Indonesia, akan diluncurkan. Dengan solusi Medi-call, para traveler yang berlibur ke Bali pun dapat memanggil dokter ke destinasi wisata di Bali saat diperlukan.

Awal tahun depan, para pekerja urban di Yogyakarta dan Jakarta tak perlu lagi repot menembus macet atau meminta ijin ke kantor untuk bertemu dokter. “Kami akan segera meluncurkan Medi-call di kedua kota tersebut segera pada tahun depan, dan bekerja sama dengan para dokter yang telah bergabung dengan Ikatan Dokter Indonesia,” tambah dr. Candra.

 

Bagikan & sehatkan dunia :
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestEmail this to someone